Wednesday

TABARRUK/MENGAMBIL BERKAT

TABARRUK/MENGAMBIL BERKAT adalah istilah yang digunakan oleh sebahagian besar ummat islam guna menyebut perbuatan yang bertujuan mencari/mengharap “Barakah/bertambahnya kebajikan” dari Allah melalui objek-objek yang diyakini sebagai objek yang dikehendaki oleh Allah untuk beroleh keberkatan dari-Nya. Adapun objek/perkara yang dijadikan sebagai sarana mencari berkat dari Allah kadang-kadang berupa para Nabi dan orang-orang soleh atau berupa benda peninggalan para Nabi atau orang-orang soleh, dan terkadang berupa tempat yang pernah dipergunakan oleh para Nabi atau orang-orang soleh dalam beribadah kepada Allah. Sehingga dapat dikatakan Tabarruk adalah bentuk lain dari Tawassul.

Bertabarruk dengan perantara orang-orang soleh 

Adapun di antara dalil/hujjah yang menjadi landasan praktik Tabarruk dengan cara ini adalah:

Dari Ibnu Abbas, dia berkata : Rasululloh shallallaha ‘alaihi wasallam bersabda : “Barakah itu bersama orang-orang bersar di antara kalian.” (H.R. Al Hakim dan Ibnu Hibban)

Al Hakim berkata : “Hadith ini shahih menurut syarat Al Bukhari, namun beliau tidak meriwayatkannya”. Adz Dzahabi menyetujuinya.

Sedang yang dijadikan contoh dalam Bertabarruk dengan orang-orang soleh di antaranya adalah:

1. Usaid Ibn Hudhair mencium pinggang Rasulullah :

Imam Al Hakim meriwayatkan sebuah hadith dengan sanad yang shahih bersambung sampai kepada Abi Laila, dia menuturkan sebuah kisah :

Suatu ketika Usaid bin Hudhair (seorang sahabat yang soleh dan suka berjenaka), bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Usaid menuturkan cerita yang membuat para sahabat tertawa hingga Rasulullah memukul pinggangnya. Usaid pun mengadu: “Engkau telah membuatku merasa sakit,” kata Usaid. “Silakan membalas (Qisas),” jawab Nabi.

“Wahai Rasulullah, engkau mengenakan gamis sedang saya tidak,” ujar Usaid. Abi Laila berkata:  “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melepas gamisnya dan Usaid merangkul beliau dan menciumi pinggang beliau.” “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah, saya menginginkan ini,” kata Usaid. (H.R. Al Hakim, dan beliau berkata: Hadith ini sanadnya shahih sedang Imam Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi menyetujuinya dan beliau berkata : Hadith ini Shahih. Juga dimuatkan hadith sepertinya dalam Sunan Abu Daud, no. 4547)

2. Para Sahabat Berebut Kahak dan Bekas Wudhu’ Rasulullah :

Adalah ‘Urwah ketika beliau menceritakan hasil pengamatannya terhadap para sahabat Rasulullah :
 “Demi Allah,” kata ‘Urwah, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengeluarkan kahak kecuali kahak itu jatuh pada telapak tangan salah satu sahabat yang kemudian dia gosokkan pada wajah dan kulitnya. Jika beliau memberikan perintah maka mereka segera mematuhi perintahnya. Jika beliau berwudhu’ maka nyaris mereka berkelahi untuk mendapat air sisa wudhu’nya.” (Shahih Al Bukhari, no. 2529)

Dalam kaitan hadits diatas, Al Imam Al Hadidzh Ibn Hajar berkata :
“Dalam hadith tersebut terdapat (dalil) sucinya kahak dan rambut yang terpisah, dan (dalil) Tabarruk dengan sisa perkara yang suci dari orang-orang soleh.” (Fathul Bari, vol. 5, hlm. 341)

3. Mencium Tangan Orang Lain Yang Pernah Berjabat Dengan Rasulullah :

Yahya ibnu Al Harits Adz Dzimari berkata:
Saya pernah berjumpa dengan Watsilah ibnu Al Asqo’ radhiyallahu ‘anhu. “Apakah engkau berbai’ah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tanganmu ini?” tanyaku. “Benar” jawab Watsilah. “Hulurkan tanganmu, aku akan menciumnya!” kataku. Dia kemudian menhulurkan tangannya dan aku mencium tangan tersebut. (H.R. At Thabarani)

Tabarruk Dengan Benda Peninggalan Orang-Orang Soleh

Adapun di antara dalil/hujjah yang menjadi landasan praktik Tabarruk dengan cara ini adalah :

1. Firman Allah :
 “Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun,’ Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (Al Baqarah : 248)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menuturkan beberapa riwayat dan pendapat tentang isi Tabut (peti) tersebut : “Di dalam tabut itu ada tongkat Nabi Musa, tongkat Nabi Harun, dua papan dari Taurat dan beberapa baju Nabi Harun. Sebagian ulama’ berpendapat di dalamnya ada tongkat dan sepasang sandal.” (Tafsir Ibnu Katsir vol. I hlmn. 313)

Selanjutnya dalam kitabnya yang lain Al Hafidh Ibnu Katsir menuturkan kisah yang berkaitan dengan firman Allah di atas sebagai berikut :
“Dahulu Bani Israil jika berperang dengan salah seorang musuh, maka mereka sentiasa membawa Tabutul Mitsaq (peti perjanjian) yang berada dalam Qubbatuz Zaman sebagaimana telah dijelaskan. Mereka mendapat kemenangan sebab keberkatan dari Tabutul Mitsaq itu dan sebab kedamaian dan sisa-sisa peninggalan Nabi Musa dan Harun yang berada di dalamnya. Ketika dalam salah satu peperangan mereka melawan penduduk Ghaza dan ‘Asqalan, musuh berhasil mengalahkan mereka dan merebut Tabutul Mitsaq dari tangan mereka.” (Al Bidayah Wan Nihayah, vol. 2 hal. 6)

Dan yang dijadikan contoh dalam Bertabarruk dengan benda/peninggalan orang-orang soleh di antaranya adalah:

2. Tabarruk Dengan Sumur Bekas Unta Nabi Shalih alaihis salaam :

Dari Nafi' bahawa Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu mengkhabarkan kepadanya :

Bahwasannya para sahabat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah singgah di Al Hijr (tempat yang pernah dihuni kaum Tsamud, yakni kaum Nabi Shalih ‘alaihis salam).
Para sahabat mengambil air dari sumur-sumur kaum Tsamud dan membuat adunan roti dengan air sumur tersebut. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh mereka untuk menumpahkan air yang mereka ambil dan memberikan adunan roti kepada unta, dan Rasulullah menyuruh mereka mengambil air dari sumur yang pernah didatangi unta Nabi Shalih. (Shahih Al Bukhari, no. 3128 dan Shahih Muslim, no. 5294)

Imam An Nawawi ketika menjelaskan hadith di atas, beliau berkata :
“Di antara faedah yang terkandung dalam hadith ini adalah: Hendaknya menjauhi sumur peninggalan orang-orang zalim serta (dianjurkan) bertabarruk (mengambil barakah) dengan sumur orang-orang soleh.” (Syarah Muslim, vol. 18 hal. 112)

3. Tabarruk Dengan Bekas Jubah Nabi Untuk Pengubatan :

Abdullah (pembantu Asma’ binti Abu Bakar) disuruh menghadap Abdullah Ibnu Umar untuk menanyakan tiga hal; yakni tentang puasa bulan Rejab, tentang pelana dari bahan kayu Urjuwan dan tentang pakaian dari sutera. Sekembali dari mengahadap Abdullah ibnu Umar, pembantu Asma’ tersebut menghadap kepada Asma’ binti Abu Bakar dan mengkhabarkan jawapan dari Abdullah Ibnu Umar.

Kemudian Asma’ mengeluarkan jubah hijau Persia yang bertambalkan sutera dan kedua celahnya dijahit dengan sutera juga. Kemudian Asma’ berkata: “Ini adalah jubah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jubah tersebut disimpan oleh ‘Aisyah. Saat dia wafat jubah ini aku ambil. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengenakan jubah ini dan saya membasuhnya untuk orang-orang sakit dalam rangka memohon kesembuhan dengannya.” (Shahih Muslim, no. 3855)

Dalam hadith di atas kita dapati adanya keterangan bahawa Asma’ binti Abu Bakar menggunakan air bekas cucian (basuhan) jubah Nabi untuk orang-orang sakit yang mencari kesembuhan dengannya.

4. Tabarruk Dengan Rambut Nabi Untuk Mencari Kesembuhan :

Adalah Uthman Ibn Abdillah Ibn Mauhab bercerita :
 “Aku pernah diutus keluargaku untuk menemui Ummu Salamah (isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan membawa mangkuk berisi air. Lalu Ummu Salamah datang dengan membawa sebuah bekas dari perak yang berisi rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika seseorang terkena sihir atau sesuatu hal maka dia datang kepada Ummu Salamah membawakan bejana untuk mencuci pakaian. “Saya amati bekas itu dan ternyata saya melihat ada beberapa helai rambut berwarna merah,” kata Uthman. (Shahih Al Bukhari, no. 5446)

Al Hafidh Ibnu Hajar, ketika menjelaskan hadith di atas beliau berkata :
Maksud hadith adalah : "Bahwasannya jika seseorang mengeluh (kerana penyakit) maka dia mengirim mangkuk kepada Ummu Salamah, kemudian Ummu Salamah meletakkan rambut-rambut Nabi dan membasuhnya di dalam mangkuk tersebut, kemudian mangkuk tersebut dikembalikan kepada pemiliknya. Selanjutnya pemilik mangkuk tersebut meminum atau membasuh badannya dengan air (bekas basuhan rambut Nabi) dengan tujuan mengharap kesembuhan, maka dia mendapat barakah dari rambut tersebut." (Fathul Bari, vol. 10 hlm. 353)

5. Kisah Khalid Ibn Walid dan Rambut Nabi Dalam Perang Yarmuk :

Ja’far ibn Abdillah ibn Al Hakam bercerita :
Bahawa Khalid ibnu Al Walid kehilangan peci (penutup kepala/kopiah) miliknya saat perang Yarmuk. “Carilah peciku,” perintah Khalid kepada pasukannya. Mereka mencari peci tersebut namun gagal menemukannya. “Carilah peci itu,” kata Khalid lagi. Akhirnya peci itu berhasil ditemukan. Ternyata peci itu peci yang sudah lusuh bukan peci baru. Dan ketika peci tersebut ditemukan, Khalid berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan umrah lalu beliau mencukur rambut kepalanya, kemudian orang-orang segera menghampiri bahagian-bahagian rambut beliau. Lalu saya berhasil merebut rambut bahagian ubun-ubun yang kemudian saya taruh di peci ini. Saya tidak ikut bertempur dengan mengenakan peci ini kecuali saya diberi kemenangan.” (H.R. At Thabarani dalam Al Kabir)

6. Imam Ahmad Bertabarruk Dengan Rambut Nabi Untuk Kesembuhan :

Al Hafizh Adz Dzahabi menuturkan kebiasaan Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya sebagai berikut :
“Abdullah putera Imam Ahmad bercerita: “Saya melihat ayah mengambil sehelai rambut dari rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau meletakkan pada mulutnya seraya menciumi rambut tersebut. Saya rasa saya pernah melihat ayah meletakkan rambut itu pada matanya, mencelupkan rambut tersebut ke dalam air dan meminumnya serta memohon kesembuhan (pada Allah) dengannya.” (Siyaru A’lamin Nubalaa’ vol. XI hlm. 212)

7. Tabarruk Dengan Peluh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemui kami lalu beliau tidur siang dan berpeluh. Kemudiaan ibuku (Ummu Sulaim) datang membawa botol lalu memasukkan peluh Nabi ke dalam botol tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun akhirnya terbangun dan bertanya: “Wahai Ummu Sulaim, apa yang kamu lakukan ?” “Ini adalah peluhmu yang aku campurkan pada wangianku. Peluh ini adalah wangian paling harum,” jawab Ummu Sulaim. (Shahih Muslim, no. 4300, no. 4301 dan no. 4302)

Dalam riwayat Ishaq Ibn Abi Thalhah, Ummu Sulaim menjawab : “Kami berharap keberkatannya untuk anak-anak kami,” maka Rasulullah bersabda : “Engkau benar .”

Tabarruk Dengan Tempat Peninggalan Orang-orang Soleh

Adapun di antara dalil/hujjah yang menjadi landasan praktik Tabarruk dengan cara ini adalah :

1. Solat Di Tempat Yang Pernah Digunakan Nabi Solat :

Imam Al Bukhari meriwayatkan hadith dengan sanad bersambung sampai kepada Musa bin ‘Uqbah, dia berkata:
Aku pernah melihat Salim bin Abdullah, dia sedang mencari tempat-tempat di tepi jalan, kemudian dia solat di tempat-tempat tersebut. Salim menceritakan bahawa ayahnya (Abdullah Ibnu Umar) pernah solat di tempat-tempat tersebut, dan beliau pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam solat di tempat-tempat tersebut. (Shahih Al Bukhari, no. 461)

Ketika menjelaskan hadith diatas, Al Hafidz Ibnu Hajar menyampaikan hadith lain dengan tema yang sama, kemudian beliau berkata:
"Maka hal tersebut menjadi hujjah (dalil) Tabarruk dengan peninggalan orang-orang soleh." (Fathul Bari, vol. 1 hlmn. 569)

2. Solat Di Masjid ‘Asysyar :

Imam Abu Daud meriwayatkan hadith dengan sanad sampai kepada Shalih bin Dirham, dia bercerita :
 “Kami pergi melaksanakan haji. Kebetulan kami bertemu seorang lelaki (Abu Hurairah) yang berkata kepadaku: “Berhampiran kalian ada desa yang disebut Ubullah.” “Betul,” jawab kami. “Siapakah di antara kalian bersedia memberi jaminan padaku, bahawa dia mahu solat untukku di Masjid ‘Asysyar dua atau empat rakaat setelah itu mengatakan ‘Pahala solat ini untuk Abu Hurairah’?” Abu Hurairah berkata: “Saya mendengar orang yang saya cintai, yakni Abul Qasim shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT membangkitkan dari Masjid ‘Asysyar pada hari kiamat para syuhada’ yang tidak berdiri bersama para syuhada’ Badar kecuali mereka.” (Sunan Abu Daud, no. 3754)

As Syaikh Abuth Thoyyib penyusun kitab ‘Aunul Ma’bud syarah Sunan Abu Daud mengatakan : “Bahawa Masjid ‘Asysyar adalah masjid terkenal yang dimintakan berkat dengan solat di dalamnya.” (Aunul Ma’bud vol. XI hlmn. 284)

3. Imam As Syafi’ie Bertabarruk Dengan Kuburan Imam Abu Hanifah :

Al ‘Allamah As Syaikh Khathib Al Baghdadi menuturkan kisah dengan sanad para perawi yang tsiqah (terpercaya):
Dari Ali bin Maimun, dia berkata : Aku mendengar Imam As Syafi’ie berkata: “Sesungguhnya saya sentiasa bertabarruk dengan Abu Hanifah. Aku sentiasa mendatangi makamnya setiap hari untuk berziarah. Apabila aku mempunyai hajat, aku solat dua rakaat, lalu aku datangi makamnya, selanjutnya aku meminta kepada Allah tentang hajatku disisi kuburnya, tidak lama kemudian hajatku terkabul.” (Tarikh Baghdad, vol. 1 hal. 123)

------------------------


Gambar Sanad Rambut Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam milik Syaikh Salim Ulwan Al-Husaini, Ketua Darul Fatwa, Australia


Gambar Rambut Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam simpanan Syaikh Salim Ulwan Al-Husaini

Masjid Negeri Selangor : Kuliah Maghrib Khas 01-07-2013 bersama Dr. Shaikh Salem Ulwan Al-Husaini bertajuk Pemantapan Aqidah & Ambang Ramadhan: http://www.youtube.com/watch?v=uIevL41LPho